Sebut Saja, Mawar.

Usai sholat Subuh. Saya melipat mukena. Bergegas ke belakang rumah, mengambil tangga sederhana terbuat dari kayu dan meletakannya di dinding. Dengan cekatan, saya menaiki anak tangga, sampai di atas atap, saya melihat ke langit. Mata saya terus mengamati langit, mencari ‘tanda’ yang terlihat agar dapat ‘terbaca’. Pesan apa kali ini?

Tanda itu datang! kali ini petir kecil melesat ke Utara. Setelah petir itu menghilang. Sayapun memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk mengetahui jawabannya. Saya ‘melihat’ rumah minimalis berlantai dua berpagar coklat. Rumah itu hanya dua blok dari rumah saya. Pemiliknya seorang wanita, saya tidak tahu namanya karena dia baru pindah sekitar 2 minggu. Mata saya terkesiap. Saya ‘melihat’ sekuntum mawar bersimbah darah, sesuatu yang mengerikan akan terjadi atas dirinya. Sayapun membuka mata, dan segera turun dan langsung masuk kamar. Tertidur.

Saya terbangun karena suara keras dari tivi di ruang tengah. Saya membuka pintu kamar sambil berkata setengah berteriak, “Tolong suara tivinya dikecilin” Saya tersadar, saya sendirian di rumah. Saya keluar kamar dan meraih remote TV dari atas meja. Ketika ingin mematikan TV, tenggorokan saya tercekat. Saya terpana di depan TV. Telah ditemukan mayat wanita muda. Dia tinggal dekat rumah saya. Terbunuh. Pembunuhnya meninggalkan setangkai mawar merah dekat mayatnya.

Namanya Bobby

Kepulan asap tebal keluar dari mulutnya, menebarkan aroma kopi campur mint yang cukup kuat. Di sela-sela hisapan, ia teguk segelas besar bir di hadapannya. Sesekali ia pun tertawa lepas, seakan tak ada beban dalam hidupnya.

Namanya Bobby. Ia kukenal sebagai orang yang cukup kuat merokok. Dulu, sebelum beralih ke rokok elektronik, ia bisa menghabiskan sebungkus rokok tiap harinya. Itu juga belum termasuk rokok-rokok hasil palakan dari teman-temannya.

Aku melihatnya sebagai sosok yang sangat menyenangkan, terlebih dengan senyumnya yang cukup menawan itu. Padahal, di beberapa bagian tubuhnya terpatri tato-tato beraneka rupa, termasuk tato nama istrinya “Andina”. Bobby pernah bercerita bahwa ia sengaja mengeset image garang ke orang-orang yang belum terlalu dikenalnya, semata-mata hanya untuk menghindari pelecehan dari orang-orang di sekitarnya, seperti yang pernah ia alami di masa kecilnya.

Aku mengagumi ketabahannya. Aku juga mengagumi kemampuannya menahan ego dan emosinya. Namun, tak dipungkiri, aku pun mengagumi kekar badannya. Beberapa kali ia pernah memelukku, mungkin sebagai sahabat walau kuanggap lain.

Sepertinya ia lupa atau mungkin tidak tau apa yang pernah kulakukan padanya setahun yang lalu. Ketika itu kami menginap di puncak untuk acara komunitas mobil kami. Sungguh, satu malam yang tak kulupakan.

“Bro!” Aku terhenyak. Lamunanku buyar. “Balik dulu ya,” ujarnya sambil tersenyum.

By: KIP!